Seri Studi di Jepang – Doctoral Program

Semester 1

Tanggal 23 September, saya balik ke Jepang setelah liburan selama 3 minggu di Indonesia. Hari itu juga merupakan hari bersejarah, journal paper yang saya tulis 9 bulan sebelumnya, dinyatakan “Accepted” oleh Robotics and Autonomous Systems (Elsevier). Saya cukup beruntung bahwa seluruh paper yang dibuat saat Master Course ikut dihitung dalam kelulusan Doctoral nantinya. Alhasil, saya hanya tinggal membutuhkan satu jurnal lagi, karena syarat kelulusan Doctoral Course di TUT adalah 2 jurnal dan 1 international conference.

1 Oktober 2012, saya resmi memulai program Doctoral Course. Sebenarnya nyaris tidak ada yang spesial, karena saya sudah menentukan tema riset doktoral saya (Viewpoint Planning) sejak akhir program Master Course, bahkan 1 buah paper conference sudah di-submit ke ICRA dari tema tersebut. Semester ini, sensei meminta saya untuk mengikuti RT-Middleware Contest, sebuah kompetisi programming yang bertujuan untuk mengembangkan berbagai aplikasi berbasis RT-Middleware. Kompetisi ini dilangsungkan pada akhir Desember 2012, berbarengan dengan Japanese Conference SICE, sehingga hasil dari competisi ini juga dipresentasikan di dalam conference. Saya sendiri membuat RT-Component untuk 3D Simulator yang sebelumnya saya bangun saat menggarap versi awal dari viewpoint planning. Alhamdulillah, saya berhasil mendapatkan Panasonic Award atas aplikasi “RT Components for using MORSE Realistic Simulator for Robotics”.

Pada semester ini, saya juga memulai “supporting research” tentang person detection dan orientation estimation. Research ini merupakan salah satu pendukung agar tema Viewpoint Planning dapat berjalan sebagaimana mestinya. Tentu saja supporting research tentang person detection ini diperlukan karena object yang di-observe adalah orang. Bulan Oktober 2012 saya mulai study literatur dan Februari 2013 saya sudah mendapatkan hasil. Banyak yang bertanya bagaimana bisa mengerjakan satu tema riset dengan cepat ? Ada beberapa alasan :

  1. Sebenarnya saya sudah merancang “supporting research” sejak Master, bersamaan ketika saya mem-propose viewpoint planning. Boleh dibilang, waktu antara Oktober 2012 dan Februari 2013 itu adalah waktu eksekusi.
  2. Seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya (monggo dibaca lagi bagian Master Course), hal yang paling mendasar ketika akan mengerjakan sebuah riset (terutama untuk doctoral) adalah bagaimana kita mencari novelty dan celah yang bisa kembangkan dan kita akui sebagai suatu terobosan dan kebaruan, sebelum kita melakukan berbagai simulasi dan eksperimen. Ini sangat penting dilakukan agar kita tidak “kecele” di akhir. Contohnya, kita sudah susah payah mengerjakan suatu riset, ketika kita submit hasilnya ke sebuah jurnal, ternyata mengalami “Rejection”. Penyebabnya adalah apa yang kita kerjakan ternyata sudah banyak dikerjakan juga oleh peneliti lain dengan metode yang sama atau mirip (bahkan dengan hasil yang lebih baik). Cara yang saya gunakan adalah dengan berusaha selalu membaca literatur dari jurnal dan conference yang menjadi pioneer di bidang saya (misalnya IEEE Transaction atau journal2 Q1 Scimago). Saya yakinkan semua metode terkini biasanya ada di journal dan conference tersebut, sedangkan jurnal dan conference lain biasanya hanya mengekor. Dengan cara ini, Anda akan tahu apa yang sedang trend, apa yang sudah usang, sehingga lebih mudah untuk mencari celah riset yang mungkin bisa dilakukan.

Hasil dari tema riset person detection dan orientation estimation ini saya kirim ke conference IROS (belakangan saya sadar bahwa saya sudah salah kirim paper tentang computer vision ke conference bertemakan robotics, yang berakibat rejection).

 

Semester 2

Bulan Mei 2013 saya mengikuti IEEE International Conference on Robotics and Automation (ICRA) di Karlsruhe, Germany untuk mempresentasikan riset awal saya tentang viewpoint planning. Ini adalah kali kedua saya bisa mengikuti conference sekelas ICRA. Alhamdulillah, saya berhasil mendapatkan penghargaan “Best Service Robotics Paper Award – Finalist“. Sebuah penghargaan yang tidak pernah diduga sebelumnya, mengingat begitu competitive-nya ICRA, yang merupakan conference terbaik di bidang robotic.